Kisah Nabi Nuh

Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada umat manusia untuk mengajak mereka kembali kepada jalan tauhid, menyembah Allah Yang Maha Esa. Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh abad. Nabi Nuh disebut sebagai salah satu dari Ulul Azmi, yaitu nabi-nabi dengan ketabahan dan kesabaran luar biasa. Berikut adalah garis keturunan Nabi Adam hingga Nabi Nuh berdasarkan tradisi Islam:

  1. Adam
  2. Syits bin Adam
  3. Anwasy bin Syits
  4. Qanin bin Anwasy
  5. Mahlayil bin Qanin
  6. Yarad bin Mahlayil
  7. Idris (Khanukh) bin Yarad
  8. Matwasyalakh bin Idris
  9. Lamik bin Matwasyalakh
  10. Nuh bin Lamik

Beliau hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala (Wadd, Yughuts, Ya’uq, Suwaa’, Nar yang mana mereka adalah anak-anak Adam) dan thaghut (setan). Wadd adalah orang saleh. Setelah ia meninggal dunia, kaumnya sangat bersedih dan merasa kehilangan.

Ketika Iblis mengetahui kesedihan dan rasa kehilangan mereka kepada Wadd, ia (Iblis) mengubah wujudnya menyerupai manusia. Selanjutnya Iblis berkata: ‘Sesungguhnya, aku mengetahui apa yang kalian rasakan atas kematian orang ini (yaitu Wadd). Bagaimana menurut pendapat kalian jika aku membuat sebuah gambar yang serupa dengannya sehingga ia selalu berada di tengah-tengah perkumpulan kalian dan kalian pun selalu ingat kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Setelah itu, Iblis membuat sebuah gambar yang serupa dengan Wadd. Selanjutnya, mereka meletakkan gambar itu di tengah-tengah perkumpulan mereka sehingga mereka selalu mengenang dan mengingatnya. Ketika Iblis menyaksikan mereka selalu mengingat Wadd, Iblis kembali berkata: ‘Maukah kalian jika aku buatkan sebuah patung di rumah kalian yang serupa dengan Wadd sehingga kalian dapat mengingatnya di rumah kalian masing-masing?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’

Iblis pun membuatkan satu patung Wadd untuk setiap keluarga di antara mereka sehingga mereka menghadap pada patung itu dan selalu mengingatnya. Perilaku mereka itu disaksikan langsung oleh anak-anak keturunan mereka. Mereka terus-menerus menurunkan anak-anak keturunan yang banyak. Mereka mengajarkan kepada anak-anak keturunan mereka tentang tata cara mengingat mengingat Wadd hingga anak cucu mereka menjadikannya sebagai Tuhan yang mereka sembah selain Allah. Dengan demikian, patung yang pertama kali disembah selain Allah adalah patung yang bernama Wadd’.”

Tradisi tersebut tersebut terus-menerus berkembang hingga membuat kelompok lainnya ikut-ikutan menyembah patung Wadd itu. Diceritakan bahwa setelah masa berjalan cukup lama, mereka pun menjadikan gambar itu menjadi patung-patung berbentuk manusia yang lebih permanen. Selanjutnya, mereka menjadikannya sebagai Tuhan yang disembah selain Allah s.w.t. dengan tata cara penyembahan yang sangat kompleks.

 

Kenabian Nabi Nuh

Allah mengutus Nabi Nuh untuk menyampaikan pesan tauhid kepada kaumnya. Nabi Nuh menyeru mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah. Namun, dakwah Nabi Nuh tidaklah mudah. Kebanyakan dari kaumnya menolak ajaran beliau. Bahkan, mereka mengejek dan menghina Nabi Nuh, menganggapnya gila karena menyeru sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan mereka.

Seruan Nabi Nuh kepada kaumnya, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

"Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat menyedihkan."
(Surah Hud: 25–26)

 

Kesabaran Nabi Nuh

Allah s.w.t. juga berfirman di dalam surah al-‘Ankabût, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Lalu mereka ditimpa banjir besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Kemudian Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.” (QS. Al-‘Ankabût: 14–15)

Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun hanya sedikit yang mengikuti ajarannya. Bahkan, para pemimpin kaumnya semakin keras menolak dengan berkata:

"Kami tidak melihatmu melainkan seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami." (Surah Hud: 27)

Mereka menolak seruan Nabi Nuh karena kesombongan dan kecintaan terhadap kehidupan duniawi.

 

Perintah Membuat Kapal

Allah berfirman kepada Nabi Nuh, “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka semua akan ditenggelamkan.” (QS. Hûd: 37)

 

Hal ini terjadi ketika Nuh telah berputus asa untuk berdakwah kepada kaumnya. Namun, beliau tidak melihat adanya kebaikan dan kemaslahatan pada diri mereka hingga pada akhirnya beliau menyadari bahwa tidak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan pada diri mereka. Beliau sangat memahami bahwa kaumnya sudah melakukan hal-hal yang sudah berada di luar batas-batas kewajaran. Bahkan, mereka sudah kelewat batas dengan cara menentang dan mendustakan dakwah beliau dengan berbagai macam cara, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Pada akhirnya, Nuh mendoakan keburukan bagi mereka. Allah pun mengabulkan doa dan permohonan beliau. Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya, Nuh telah menyeru Kami maka sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa dan permohonan). Kami telah menyelamatkan dirinya dan pengikutnya dari bencana (banjir) yang besar.” (QS. Ash-Shâffât: 75–76)

 

Karena kaum Nabi Nuh terus-menerus menolak dakwahnya dan bahkan menghina Allah, maka Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal besar. Kapal ini bukanlah kapal biasa, melainkan kapal yang dibuat atas petunjuk langsung dari Allah untuk menyelamatkan Nabi Nuh, para pengikutnya, dan makhluk-makhluk yang dipilih Allah dari azab besar yang akan datang.

Ketika Nabi Nuh membuat kapal, kaumnya mengejek dan memperolok-oloknya. Mereka berkata:

"Wahai Nuh, apakah kamu membuat kapal di daratan? Apakah kamu bercanda?"

Namun, Nabi Nuh tetap sabar dan terus melanjutkan pekerjaannya sesuai perintah Allah.

 

Banjir Besar

Setelah kapal selesai dibuat, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk mengajak para pengikutnya naik ke kapal, bersama dengan setiap pasangan makhluk hidup (jantan dan betina) yang telah ditentukan. Tidak lama kemudian, hujan deras mulai turun tanpa henti, air meluap dari bumi, dan banjir besar pun terjadi.

Kaumnya yang menolak seruan Nabi Nuh dihancurkan oleh azab Allah.

Al-Qur’an menggambarkan peristiwa ini:

"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (Surah Al-Qamar: 11–12)

Allah s.w.t. berfirman, “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Hûd: 42)

Hal ini terjadi karena Allah s.w.t. menurunkan hujan sangat deras dari langit yang intensitas dan kapasitasnya belum pernah terjadi, kapan, dan di mana pun di bagian bumi, baik sebelum maupun sesudahnya, hingga menyebabkan banjir besar yang gerakan airnya seperti gelombang yang menjulang tinggi. Allah juga memerintahkan bumi agar memancarkan air dari segala penjuru.

 

Anak Nabi Nuh yang Menolak

Salah satu peristiwa memilukan dalam kisah Nabi Nuh adalah ketika salah satu anaknya sendiri, Kan’an, menolak untuk naik ke kapal. Ketika air semakin naik, Nabi Nuh memanggil anaknya dan berkata:

"Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (Surah Hud: 42)

Namun, anaknya menolak dan berkata bahwa ia akan berlindung di gunung yang tinggi untuk menyelamatkan diri. Nabi Nuh menjawab:

"Tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah pada hari ini."

Akhirnya, anak Nabi Nuh termasuk di antara orang-orang yang tenggelam.

 

Akhir dari Banjir

Setelah banjir besar menghancurkan kaum Nabi Nuh yang durhaka, Allah memerintahkan hujan berhenti, dan air mulai surut. Kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh di Gunung Judi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

"Dan difirmankan: 'Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan), berhentilah.' Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi." (Surah Hud: 44)

Para pakar agama telah bersepakat tentang peristiwa badai topan yang telah terjadi pada zaman Nabi Nuh tersebut. Mereka meyakini bahwa peristiwa banjir besar itu melanda seluruh negeri yang ada di permukaan bumi. Mereka menerima informasi tentang kejadian itu dari para rasul yang diutus kepada mereka dan diberitakan secara mutawatir. Dengan adanya peristiwa banjir itu, semua orang kafir tenggelam sehingga Allah tidak menyisakan satu orang kafir pun di muka bumi. Hal ini sebagai jawaban dari doa Nabi-Nya yang ma'shum (terpelihara dari dosa, yaitu Nabi Nuh). Allah mengabulkan doa beliau sekaligus mengabadikan keberadaan beliau di muka bumi di samping sebagai realisasi dari takdir yang telah ditentukan oleh-Nya.

 

Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh

  1. Kesabaran dalam Berdakwah: Nabi Nuh menunjukkan keteguhan dan kesabaran yang luar biasa meskipun menghadapi banyak tantangan dan penolakan.
  2. Kekuasaan Allah: Azab berupa banjir besar menunjukkan bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, termasuk menghukum orang-orang yang membangkang.
  3. Keimanan dan Ketaatan: Mereka yang selamat adalah orang-orang yang beriman dan menaati perintah Allah.
  4. Banyak Bersyukur: Nuh adalah hamba Allah yang banyak bersyukur, ia selalu memuji Allah atas semua karunia-Nya berupa makanan, minuman, pakaian, dan nikmat-nikmat Allah lainnya.

Setelah peristiwa banjir besar yang terjadi di masa Nabi Nuh, beliau dan pengikutnya yang selamat tinggal di bumi yang telah disucikan oleh Allah. Dalam tradisi Islam, disebutkan bahwa umat manusia setelah itu berasal dari keturunan Nabi Nuh melalui tiga putranya: Sam, Ham, dan Yafits. 

 

Putra-Putra Nabi Nuh

  1. Sam:
    Menjadi nenek moyang bangsa Arab. Sam dikenal sebagai garis keturunan yang melahirkan para nabi, termasuk Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad SAW. Sam dikaruniai tiga anak bernama Arab, Persi, dan Rum yang ketiga-tiganya merupakan keturunan terbaik diantara cucu-cucu Nabi Nuh.
  2. Ham:
    Menjadi nenek moyang bangsa Habsyi.
  3. Yafits:
    Menjadi nenek moyang bangsa Romawi. Adapun Romawi disini adalah Romawi generasi pertama. Yafits dikaruniai tiga anak yang bernama Qibthi, Barbar, dan Sudan.

 

Wasiat Nabi Nuh Kepada Anak-Anaknya

Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya, Nabi Allah (yang bernama) Nuh a.s. ketika menjelang wafatnya beliau berkata kepada anaknya: ‘Sesungguhnya, aku berwasiat kepadamu berupa perintah tentang dua hal dan larangan berupa dua hal. Dua hal pertama (yang berupa perintah), yaitu aku perintahkan kepadamu untuk meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan di sisi timbangan sementara kalimat lâ Ilâha illallâh diletakkan di sisi lainnya, niscaya kalimat lâ Ilâha illallâh lebih berat timbangannya. Aku juga berwasiat (kepadamu) bahwa seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi itu merupakan himpunan makhluk hidup, niscaya ia akan terhimpun dengan lâ Ilâha illallâh, subhânallâh, dan wabihamdih (alhamdulillâh) sebab dengan kalimat-kalimat suci itu segala sesuatu terjalin dan dengan kalimat-kalimat itu pula semua makluk diberi rezeki. (Adapun dua hal berikutnya adalah) aku melarangmu dari kemusyrikan dan kesombongan’.’

Daftar Cerita

Silahkan dipilih untuk membaca cerita ADAM A.S IDRIS A.S NUH A.S HUD A.S SHALEH A.S IBRAHIM A.S LUTH A.S ISMAIL A.S ISHAQ A.S YA'QUB A.S...