Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada
umat manusia untuk mengajak mereka kembali kepada jalan tauhid, menyembah Allah
Yang Maha Esa. Rentang waktu antara Adam dan Nuh adalah sepuluh abad. Nabi Nuh
disebut sebagai salah satu dari Ulul Azmi, yaitu nabi-nabi dengan
ketabahan dan kesabaran luar biasa. Berikut adalah garis keturunan Nabi Adam
hingga Nabi Nuh berdasarkan tradisi Islam:
- Adam
- Syits bin
Adam
- Anwasy bin
Syits
- Qanin bin
Anwasy
- Mahlayil bin
Qanin
- Yarad bin
Mahlayil
- Idris (Khanukh)
bin Yarad
- Matwasyalakh bin
Idris
- Lamik bin
Matwasyalakh
- Nuh bin
Lamik
Beliau hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala (Wadd,
Yughuts, Ya’uq, Suwaa’, Nar yang mana mereka adalah anak-anak Adam) dan thaghut
(setan). Wadd adalah orang saleh. Setelah ia meninggal dunia, kaumnya sangat
bersedih dan merasa kehilangan.
Ketika Iblis mengetahui kesedihan dan rasa kehilangan mereka kepada Wadd,
ia (Iblis) mengubah wujudnya menyerupai manusia. Selanjutnya Iblis berkata:
‘Sesungguhnya, aku mengetahui apa yang kalian rasakan atas kematian orang ini
(yaitu Wadd). Bagaimana menurut pendapat kalian jika aku membuat sebuah gambar
yang serupa dengannya sehingga ia selalu berada di tengah-tengah perkumpulan
kalian dan kalian pun selalu ingat kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Setelah
itu, Iblis membuat sebuah gambar yang serupa dengan Wadd. Selanjutnya, mereka
meletakkan gambar itu di tengah-tengah perkumpulan mereka sehingga mereka
selalu mengenang dan mengingatnya. Ketika Iblis menyaksikan mereka selalu
mengingat Wadd, Iblis kembali berkata: ‘Maukah kalian jika aku buatkan sebuah patung
di rumah kalian yang serupa dengan Wadd sehingga kalian dapat mengingatnya di
rumah kalian masing-masing?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’
Iblis pun membuatkan satu patung Wadd untuk setiap keluarga di antara
mereka sehingga mereka menghadap pada patung itu dan selalu mengingatnya.
Perilaku mereka itu disaksikan langsung oleh anak-anak keturunan mereka. Mereka
terus-menerus menurunkan anak-anak keturunan yang banyak. Mereka mengajarkan
kepada anak-anak keturunan mereka tentang tata cara mengingat mengingat Wadd
hingga anak cucu mereka menjadikannya sebagai Tuhan yang mereka sembah selain
Allah. Dengan demikian, patung yang pertama kali disembah selain Allah adalah
patung yang bernama Wadd’.”
Tradisi tersebut tersebut terus-menerus berkembang hingga membuat kelompok
lainnya ikut-ikutan menyembah patung Wadd itu. Diceritakan bahwa setelah masa
berjalan cukup lama, mereka pun menjadikan gambar itu menjadi patung-patung
berbentuk manusia yang lebih permanen. Selanjutnya, mereka menjadikannya
sebagai Tuhan yang disembah selain Allah s.w.t. dengan tata cara penyembahan
yang sangat kompleks.
Kenabian Nabi Nuh
Allah mengutus Nabi Nuh untuk menyampaikan pesan tauhid
kepada kaumnya. Nabi Nuh menyeru mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala
dan kembali menyembah Allah. Namun, dakwah Nabi Nuh tidaklah mudah. Kebanyakan
dari kaumnya menolak ajaran beliau. Bahkan, mereka mengejek dan menghina Nabi
Nuh, menganggapnya gila karena menyeru sesuatu yang bertentangan dengan
kebiasaan mereka.
Seruan Nabi Nuh kepada kaumnya, seperti yang disebutkan
dalam Al-Qur’an:
"Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang
nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku
khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat menyedihkan."
(Surah Hud: 25–26)
Kesabaran Nabi Nuh
Allah s.w.t. juga berfirman di dalam surah al-‘Ankabût, “Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang
lima puluh tahun. Lalu mereka ditimpa banjir besar dan mereka adalah
orang-orang yang zalim. Kemudian Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang
bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.” (QS. Al-‘Ankabût: 14–15)
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun
hanya sedikit yang mengikuti ajarannya. Bahkan, para pemimpin kaumnya semakin
keras menolak dengan berkata:
"Kami tidak melihatmu melainkan seorang manusia
seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan
orang-orang yang hina dina di antara kami." (Surah Hud: 27)
Mereka menolak seruan Nabi Nuh karena kesombongan dan
kecintaan terhadap kehidupan duniawi.
Perintah Membuat Kapal
Allah berfirman kepada Nabi Nuh, “Dan buatlah bahtera itu dengan
pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Janganlah engkau bicarakan dengan Aku
tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka semua akan
ditenggelamkan.” (QS. Hûd: 37)
Hal ini terjadi ketika Nuh telah berputus asa untuk berdakwah kepada
kaumnya. Namun, beliau tidak melihat adanya kebaikan dan kemaslahatan pada diri
mereka hingga pada akhirnya beliau menyadari bahwa tidak ada lagi kebaikan yang
bisa diharapkan pada diri mereka. Beliau sangat memahami bahwa kaumnya sudah
melakukan hal-hal yang sudah berada di luar batas-batas kewajaran. Bahkan,
mereka sudah kelewat batas dengan cara menentang dan mendustakan dakwah beliau
dengan berbagai macam cara, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Pada akhirnya,
Nuh mendoakan keburukan bagi mereka. Allah pun mengabulkan doa dan permohonan
beliau. Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya, Nuh telah menyeru Kami maka
sesungguhnya (Kami adalah) sebaik-baik yang memperkenankan (doa dan permohonan).
Kami telah menyelamatkan dirinya dan pengikutnya dari bencana (banjir) yang
besar.” (QS. Ash-Shâffât: 75–76)
Karena kaum Nabi Nuh terus-menerus menolak dakwahnya dan
bahkan menghina Allah, maka Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah
kapal besar. Kapal ini bukanlah kapal biasa, melainkan kapal yang dibuat atas
petunjuk langsung dari Allah untuk menyelamatkan Nabi Nuh, para pengikutnya,
dan makhluk-makhluk yang dipilih Allah dari azab besar yang akan datang.
Ketika Nabi Nuh membuat kapal, kaumnya mengejek dan
memperolok-oloknya. Mereka berkata:
"Wahai Nuh, apakah kamu membuat kapal di daratan?
Apakah kamu bercanda?"
Namun, Nabi Nuh tetap sabar dan terus melanjutkan
pekerjaannya sesuai perintah Allah.
Banjir Besar
Setelah kapal selesai dibuat, Allah memerintahkan Nabi Nuh
untuk mengajak para pengikutnya naik ke kapal, bersama dengan setiap pasangan
makhluk hidup (jantan dan betina) yang telah ditentukan. Tidak lama kemudian,
hujan deras mulai turun tanpa henti, air meluap dari bumi, dan banjir besar pun
terjadi.
Kaumnya yang menolak seruan Nabi Nuh dihancurkan oleh azab
Allah.
Al-Qur’an menggambarkan peristiwa ini:
"Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang
tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah
air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan." (Surah Al-Qamar: 11–12)
Allah s.w.t. berfirman, “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam
gelombang laksana gunung.” (QS. Hûd: 42)
Hal ini terjadi karena Allah s.w.t. menurunkan hujan sangat deras dari
langit yang intensitas dan kapasitasnya belum pernah terjadi, kapan, dan di
mana pun di bagian bumi, baik sebelum maupun sesudahnya, hingga menyebabkan
banjir besar yang gerakan airnya seperti gelombang yang menjulang tinggi. Allah
juga memerintahkan bumi agar memancarkan air dari segala penjuru.
Anak Nabi Nuh yang Menolak
Salah satu peristiwa memilukan dalam kisah Nabi Nuh adalah
ketika salah satu anaknya sendiri, Kan’an, menolak untuk naik ke
kapal. Ketika air semakin naik, Nabi Nuh memanggil anaknya dan berkata:
"Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan
janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." (Surah Hud: 42)
Namun, anaknya menolak dan berkata bahwa ia akan
berlindung di gunung yang tinggi untuk menyelamatkan diri. Nabi Nuh menjawab:
"Tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah pada
hari ini."
Akhirnya, anak Nabi Nuh termasuk di antara orang-orang
yang tenggelam.
Akhir dari Banjir
Setelah banjir besar menghancurkan kaum Nabi Nuh yang
durhaka, Allah memerintahkan hujan berhenti, dan air mulai surut. Kapal Nabi
Nuh akhirnya berlabuh di Gunung Judi, sebagaimana disebutkan dalam
Al-Qur’an:
"Dan difirmankan: 'Hai bumi, telanlah airmu, dan hai
langit (hujan), berhentilah.' Dan air pun disurutkan, perintah pun
diselesaikan, dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi." (Surah Hud: 44)
Para pakar agama telah bersepakat tentang peristiwa badai topan yang telah
terjadi pada zaman Nabi Nuh tersebut. Mereka meyakini bahwa peristiwa banjir
besar itu melanda seluruh negeri yang ada di permukaan bumi. Mereka menerima
informasi tentang kejadian itu dari para rasul yang diutus kepada mereka dan
diberitakan secara mutawatir. Dengan adanya peristiwa banjir itu, semua
orang kafir tenggelam sehingga Allah tidak menyisakan satu orang kafir pun di
muka bumi. Hal ini sebagai jawaban dari doa Nabi-Nya yang ma'shum
(terpelihara dari dosa, yaitu Nabi Nuh). Allah mengabulkan doa beliau sekaligus
mengabadikan keberadaan beliau di muka bumi di samping sebagai realisasi dari
takdir yang telah ditentukan oleh-Nya.
Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh
- Kesabaran
dalam Berdakwah: Nabi Nuh menunjukkan keteguhan dan
kesabaran yang luar biasa meskipun menghadapi banyak tantangan dan
penolakan.
- Kekuasaan
Allah: Azab berupa banjir besar menunjukkan bahwa Allah
berkuasa atas segala sesuatu, termasuk menghukum orang-orang yang
membangkang.
- Keimanan
dan Ketaatan: Mereka yang selamat adalah orang-orang yang beriman
dan menaati perintah Allah.
- Banyak
Bersyukur: Nuh adalah hamba Allah yang banyak bersyukur, ia
selalu memuji Allah atas semua karunia-Nya berupa makanan, minuman,
pakaian, dan nikmat-nikmat Allah lainnya.
Setelah peristiwa banjir besar yang terjadi di masa Nabi
Nuh, beliau dan pengikutnya yang selamat tinggal di bumi yang telah disucikan
oleh Allah. Dalam tradisi Islam, disebutkan bahwa umat manusia setelah itu
berasal dari keturunan Nabi Nuh melalui tiga putranya: Sam, Ham,
dan Yafits.
Putra-Putra Nabi Nuh
- Sam:
Menjadi nenek moyang bangsa Arab. Sam dikenal sebagai garis keturunan yang melahirkan para nabi, termasuk Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad SAW. Sam dikaruniai tiga anak bernama Arab, Persi, dan Rum yang ketiga-tiganya merupakan keturunan terbaik diantara cucu-cucu Nabi Nuh. - Ham:
Menjadi nenek moyang bangsa Habsyi. - Yafits:
Menjadi nenek moyang bangsa Romawi. Adapun Romawi disini adalah Romawi generasi pertama. Yafits dikaruniai tiga anak yang bernama Qibthi, Barbar, dan Sudan.
Wasiat Nabi Nuh Kepada Anak-Anaknya
Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya, Nabi Allah (yang
bernama) Nuh a.s. ketika menjelang wafatnya beliau berkata kepada anaknya:
‘Sesungguhnya, aku berwasiat kepadamu berupa perintah tentang dua hal dan
larangan berupa dua hal. Dua hal pertama (yang berupa perintah), yaitu aku perintahkan kepadamu
untuk meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Seandainya tujuh lapis
langit dan tujuh lapis bumi diletakkan di sisi timbangan sementara kalimat lâ
Ilâha illallâh diletakkan di sisi lainnya, niscaya kalimat lâ Ilâha illallâh
lebih berat timbangannya. Aku juga berwasiat (kepadamu) bahwa seandainya tujuh
lapis langit dan tujuh lapis bumi itu merupakan himpunan makhluk hidup, niscaya
ia akan terhimpun dengan lâ Ilâha illallâh, subhânallâh, dan wabihamdih
(alhamdulillâh) sebab dengan
kalimat-kalimat suci itu segala sesuatu terjalin dan dengan kalimat-kalimat itu
pula semua makluk diberi rezeki. (Adapun dua hal berikutnya adalah) aku
melarangmu dari kemusyrikan dan kesombongan’.’