Kisah Nabi Idris

Setelah Adam wafat, yang memikul tanggung jawab dan tugas selanjutnya adalah putra beliau yang bernama Syits. Beliau adalah seorang nabi. Hal ini berdasarkan penjelasan suatu hadis marfu' yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dari Abu Dzar: "Sesungguhnya, Allah menurunkan lima puluh lembar wahyu (suhuf) kepada Syits."

Ketika ajal Syits hampir tiba, beliau berwasiat kepada putranya yang bernama Anwasy. Selanjutnya, ialah yang melanjutkan tugas ayahnya. Setelah Anwasy wafat, tugas tersebut dilanjutkan oleh putranya yang bernama Qanin. Setelah Qanin wafat, dilanjutkan oleh putranya yang bernama Mahlayil. Ia adalah orang yang dianggap sebagai raja oleh sebagian masyarakat Persia. Ia juga merupakan orang pertama kali yang memotong pepohonan, membangun kota, dan benteng-benteng besar. Ia pula orang yang membangun kota Babilonia dan kota as-Sus al-Aqsha. Ia juga orang yang berhasil mendesak Iblis dan bala tentaranya ke ujung bumi. Ia pernah membunuh makhluk sejenis yang membangkang dan menentangnya. Ia memiliki mahkota kerajaan yang agung dan pernah pidato di hadapan manusia. Ia memegang kekuasaan negaranya selama empat puluh tahun.

Setelah Mahlayil wafat kekuasaannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Yarad. Menjelang wafatnya, Yarad berwasiat kepada putranya, Khanukh yang di kemudian hari dikenal sebagai Nabi Idris a.s.

Nabi Idris adalah nabi yang diutus Allah setelah Nabi Adam dan keturunannya. Beliau lahir dalam garis keturunan Syits, putra Nabi Adam, yang dikenal sebagai seorang nabi dan orang yang sangat saleh. Nabi Idris hidup di masa ketika manusia mulai mengenal kehidupan yang lebih maju, tetapi juga mulai melupakan ajaran tauhid dan berbuat zalim.

Adam → Syits → Anwasy → Qanin → Mahlayil → Yarad → Idris

Idris adalah orang yang sangat bijaksana dan berpengetahuan luas. Beliau dikenal sebagai orang pertama yang pandai menulis menggunakan pena. Di masa sebelumnya, manusia hanya menggunakan simbol atau menghafal informasi tanpa mencatatnya. Selain itu, Nabi Idris juga dikenal sebagai orang pertama yang menjahit pakaian dari kain, menggantikan kebiasaan manusia yang sebelumnya hanya memakai daun atau kulit binatang.

 

Kaum Nabi Idris

Nabi Idris diutus kepada kaumnya yang mulai jauh dari ajaran Allah. Mereka sering melakukan perbuatan zalim, melanggar hukum Allah, dan melupakan kewajiban mereka sebagai hamba-Nya. Nabi Idris berdakwah dengan sabar, mengajarkan tentang keadilan, kebaikan, dan tauhid.

Namun, seperti nabi-nabi lainnya, Nabi Idris juga menghadapi banyak tantangan. Sebagian besar kaumnya tidak mau mendengarkan dan tetap dalam kesesatan mereka. Meskipun demikian, Idris tetap teguh dalam menyampaikan risalah Allah.

 

Keistimewaan Nabi Idris

Nabi Idris dikenal sebagai seseorang yang sangat dekat dengan Allah. Ia adalah sosok yang tekun beribadah, sabar dalam menghadapi ujian, dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah. Karena kesalehannya, Allah memberikan banyak ilmu dan hikmah kepadanya, termasuk pengetahuan tentang astronomi, matematika, dan ilmu hitung.

 

Diangkat ke Langit

Salah satu peristiwa besar dalam kehidupan Nabi Idris adalah ketika Allah mengangkatnya ke langit. Dalam Al-Qur’an, disebutkan:

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi." (Surah Maryam: 56–57)

Riwayat menyebutkan bahwa Nabi Idris memiliki keinginan untuk melihat surga dan neraka. Malaikat Izrail kemudian membawanya ke langit keempat. Di sana, Idris diberi kesempatan untuk menyaksikan keindahan surga dan kedahsyatan neraka. Setelah itu, Allah memuliakannya dengan mengangkatnya ke tempat yang lebih tinggi, yaitu ke surga.

Menurut beberapa ulama, Nabi Idris masih hidup dan berada di surga, meskipun kebenaran ini hanya diketahui oleh Allah.

Pelajaran dari Kisah Nabi Idris

  1. Ilmu Pengetahuan adalah Anugerah. Nabi Idris mengajarkan pentingnya menggunakan ilmu pengetahuan untuk kebaikan umat manusia.
  2. Kesalehan dan Ketaatan. Kesalehan dan ketaatan kepada Allah membawa keberkahan, seperti yang ditunjukkan oleh kehidupan Nabi Idris.
  3. Kesabaran dalam Dakwah. Nabi Idris tetap sabar meskipun menghadapi banyak tantangan dari kaumnya yang menolak ajarannya.

Daftar Cerita

Silahkan dipilih untuk membaca cerita ADAM A.S IDRIS A.S NUH A.S HUD A.S SHALEH A.S IBRAHIM A.S LUTH A.S ISMAIL A.S ISHAQ A.S YA'QUB A.S...