Kisah Nabi Ibrahim

Nama dan Nasabnya

Beliau adalah Ibrahim ibn Tarikh (250 thn) ibn Nahur (148 thn) ibn Sarugh (230 thn) ibn Raghu (239 thn) ibn Faligh (439 thn) ibn 'Abir (464 thn) ibn Syalih (433 thn) ibn Arfakhsyadz (438 thn) ibn Sam (600 thn) ibn Nuh a.s. Demikian menurut penjelasan Ahli Kitab dalam kitab mereka.  

Al-Hafizh Ibnu Asakir telah menceritakan tentang biografi Nabi Ibrahim Khalîlullâh di dalam kitab Tarikh-nya dari Ishaq ibn Basyar al-Khalili penulis kitab Al-Mubtada` bahwa nama ibunda Ibrahim adalah Amilah. Ia juga menceritakan panjang lebar tentang ibunda Ibrahim saat melahirkan Ibrahim. Sementara itu, al-Kalabi berkata, "Nama ibunda Ibrahim adalah Buna binti Karbita ibn Kartsi, salah seorang dari Bani Arfakhsyadz ibn Sam ibn Nuh." Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari jalur riwayat lainnya, dari Ikrimah bahwa ia pernah berkata, "Ibrahim a.s. diberi gelar Abu adh-Dhaifan."

Sebagian orang mengatakan bahwa ketika Tarikh berumur 75 tahun lahirlah Ibrahim a.s., Nahur, dan Haran. Di kemudian hari, Haran mempunyai putra bernama Luth.

Ada yang berpendapat bahwa Ibrahim a.s. tidak lain adalah al-Ausath sementara Haran wafat di tanah kelahirannya ketika ayahnya masih hidup. Adapun tanah kelahirannya berada di wilayah Kaldaniyyun, suatu kawasan di Babilonia.


Menikah dengan Sarah

Para ahli sejarah berkata, "Ibrahim menikah dengan Sarah. Nahur menikah dengan Milka, putri Haran, yaitu putri saudaranya." Para ahli sejarah juga berkata, "Sarah adalah wanita mandul yang tidak dapat melahirkan anak."

Mereka juga berkata, "Tarikh berangkat bersama putranya (Ibrahim), istrinya, Luth (anak pamannya), dan Haran dari wilayah Kaldaniyyun menuju daerah yang ditempati oleh orang-orang Kan'an. Selanjutnya, mereka menetap di Harran dan di tempat inilah Tarikh wafat dalam usia 250 tahun." Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak dilahirkan di Harran, tetapi di wilayah Kaldaniyyun, suatu kawasan di Babilonia. Anak-anaknya juga lahir di Kaldaniyyun, Babilonia.


Tinggal di Negeri Harran

Mereka pun pindah ke tanah air bangsa Kan'an, yaitu Baitul Maqdis. Setelah itu, mereka bertempat tinggal di Harran yang saat itu masih merupakan bagian wilayah Kaldaniyyun. Mereka juga menetap di Jazirah Arab dan Syam. Mereka menyembah tujuh bintang. Orang-orang yang membangun kota Damaskus juga menyembah tujuh bintang tersebut. Mereka menghadap kutub selatan dan menyembah tujuh bintang dengan seremoni peribadatan yang dilakukan dengan ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu, setiap pintu dari tujuh pintu kuno di Damaskus memiliki relief gambar yang melukiskan ketujuh bintang tersebut. Dengan kepercayaannya itu, mereka melakukan seremoni ibadah, berhari raya, dan berkurban. Demikianlah, penduduk Harran menyembah bintang, berhala, dan semua penduduk bumi saat itu merupakan komunitas orang-orang kafir, kecuali Ibrahim Khalîlullâh, istri beliau, dan Luth a.s. keponakan beliau.

Ibrahim a.s. adalah orang yang dipersiapkan oleh Allah sebagai rasul dan bertugas melenyapkan kesesatan, kebatilan, dan menanamkan ajaran tauhid. Oleh sebab itu, Allah s.w.t. senantiasa menjaga Ibrahim dari segala bentuk kesesatan dan kebatilan. Allah s.w.t. memberi petunjuk kebenaran bagi Ibrahim ketika beliau masih kecil. Ketika beliau sudah besar, Allah mengutusnya sebagai seorang rasul dan menjadikannya sebagai Khalîlullâh (kekasih Allah).

Ayahnya, Azar (atau Terah dalam Alkitab), adalah seorang tukang yang membuat berhala, yang ditolak Ibrahim sejak usia dini. Sejak kecil, Ibrahim mempertanyakan penyembahan terhadap berhala dan benda-benda langit, mencari untuk memahami Pencipta yang sejati.

Ibrahim menerima petunjuk ilahi yang memerintahkannya untuk menolak penyembahan berhala dan mengajarkan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah. Misinya mendapat penentangan, terutama dari ayahnya dan orang-orang kota tempat tinggalnya. Ibrahim menghancurkan berhala-berhala di kota mereka untuk menunjukkan kelemahan mereka. Sebagai balasannya, orang-orang melemparnya ke dalam api yang membara. Namun, atas perintah Allah, api itu menjadi dingin dan aman baginya, membuktikan kebenaran Ibrahim sebagai nabi.

Dakwah yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. adalah kepada ayah kandungnya. Ayahnya termasuk orang yang menyembah berhala. Oleh karena itu, Ibrahim adalah orang yang paling tulus untuk menasihati ayahnya itu sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah s.w.t.:

"Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur`an) ini. Sesungguhnya, ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahkku, janganlah engkau menyembah setan. Sesungguhnya, setan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha Pemurah maka engkau menjadi kawan bagi setan.'

Ayahnya berkata: 'Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti juga, niscaya engkau akan kurajam dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.'

Ibrahim berkata: 'Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu. Aku akan memintakan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya, Dia sangat baik kepadaku. Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah dan aku akan berdoa kepada Tuhanku. Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku'." (QS. Maryam: 41–48)


Nabi Ibrahim Menentang Peribadatan terhadap Berhala

Allah s.w.t. mengabarkan bahwa Ibrahim Khalîlullâh a.s. menentang kaumnya yang menyembah berhala-berhala. Bahkan, beliau menghina, merendahkan, dan melecehkan berhala-berhala itu dengan kata-katanya: "Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadat padanya?" (QS. Al-Anbiyâ: 52) Maksudnya, "Patung-patung yang kalian sembah dengan rajin dan penuh ketundukan." Mereka menjawab, "Kami mendapati ayah-ayah kami menyembahnya."(QS. Al-Anbiyâ: 53) Mereka beralasan bahwa hal itu mereka lakukan karena mengikuti tradisi orang tua dan nenek moyang. Mereka merasa tidak menyembah tuhan-tuhan tandingan.

Allah s.w.t. berfirman, "Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya, kalian dan nenek moyang kalian berada dalam kesesatan yang nyata'." (QS. Al-Anbiyâ`: 54)

Demikian juga firman Allah s.w.t.: "(Ingatlah) ketika ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: 'Apakah yang kalian sembah itu? Apakah kalian menghendaki sembahan-sembahan selain Allah dengan jalan berbohong? Lalu apakah anggapan kalian terhadap Tuhan semesta alam'?" (QS. Ash-Shâffât: 85–87)

Siasat Nabi Ibrahim untuk Menyadarkan Kaumnya

Mereka mempunyai tradisi hari raya yang diperingati setiap tahun. Ketika hari raya tiba, mereka berbondong-bondong menuju pusat kota. Saat itu ayah Ibrahim mengajak Ibrahim untuk menghadiri perayaan itu, tetapi Ibrahim meolaknya seraya berkata, "Sesungguhnya, aku sedang sakit." Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman, "Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata: 'Sesungguhnya, aku sakit'." (QS. Ash-Shâffât: 88–89)

Ibrahim mengemukakan alasan tersebut kepada kaumnya agar beliau dapat mencapai tujuannya untuk menghinakan berhala-berhala mereka dan menolong agama Allah yang hak. Ibrahim mempunyai keinginan untuk melenyapkan kebatilan kaumnya yang menyembah berhala-berhala itu. Berhala-berhala yang mereka sembah itu sudah saatnya untuk dilenyapkan dan dihinakan. Inilah target dan sasaran utama yang hendak dicapai oleh Ibrahim a.s.

Ketika mereka pergi ke tempat pesta hari raya, Ibrahim tetap berada di rumahnya. "Kemudian ia pergi dengan diam-diam ke berhala-berhala mereka." (QS. Ash-Shâffât: 91) Maksudnya, Ibrahim segera pergi secara diam-diam dan menemui berhala-berhala kaumnya yang berada di dalam ruangan peribadatan yang besar. Mereka telah meletakkan aneka makanan sesaji di hadapan berhala-berhala itu. Lalu Ibrahim berkata kepada berhala-berhala itu sebagai bentuk hujatan dan ejekan kepadanya, "Mengapa kalian tidak makan? Mengapa kalian tidak menjawab?' Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat)." (QS. Ash-Shâffât: 91–93)

Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu dengan tangan kanannya karena tangan kanan itu biasanya lebih kuat, lebih bertenaga, dan lebih cepat dalam meakukannya (dibandingkan dengan tangan kiri). Berhala-berhala itu pun hancur luluh berantakan akibat pukulan martil besar yang ada di tangan Ibrahim sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah s.w.t: "Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping." Maksudnya, patung-patung itu menjadi hancur berkeping-keping. Ibrahim telah menghancurkan semua patung itu. "Kecuali (patung) yang paling besar (induk) dari patung-patung yang lain agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya." (QS. Al-Anbiyâ`: 58)

Diceritakan bahwa Ibrahim sengaja meletakkan martil besar miliknya di tangan patung yang paling besar itu sebagai isyarat bahwa ia merasa cemburu dengan adanya patung-patung kecil yang ikut-ikutan disembah bersamanya. Ketika mereka kembali dari tempat perayaan, mereka sangat terkejut melihat keadaan patung-patung yang biasa mereka sembah itu. "Mereka berkata: 'Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sesungguhnya, ia termasuk orang yang zalim'." (QS. Al-Anbiyâ`: 59)

Hal ini menjadi bukti yang sangat nyata jika saja mereka mau berpikir tentang peristiwa yang telah menimpa tuhan-tuhan sesembahan mereka itu dan andaikan patung-patung itu benar-benar sebagai tuhan, maka pasti patung-patung itu bisa mempertahankan diri dari gangguan siapa saja yang hendak mencelakainya. Akan tetapi, dengan begitu bodoh dan sesatnya mereka justru berkata, "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh ia termasuk orang yang zalim."

"Mereka berkata: 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini. Namanya Ibrahim'." (QS. Al-Anbiyâ`: 60) Maksudnya, Ibrahim telah menghina dan mencaci-maki berhala-berhala itu. Ialah pelakunya yang telah menghancurkan berhala-berhala itu.

Sementara itu, menurut Ibnu Mas'ud tuduhan mereka kepada Ibrahim itu berdasarkan kata-kata hinaan yang pernah dilontarkan oleh Ibrahim sebelumnya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meinggalkannya." (QS. Al-Anbiyâ`: 57)

Allah s.w.t. berfirman, "Mereka berkata: '(Kalau demikian) bawalah ia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan'." (QS. Al-Anbiyâ`: 61) Maksudnya, Ibrahim harus segera dibawa ke tempat terbuka di hadapan para tokoh masyarakat agar mereka menyaksikan ucapannya dan mendengar penjelasannya di hadapan para saksi yang terpilih. Dengan demikian, mereka akan menentukan hukuman yang layak baginya.

Kesempatan seperti itu justru yang sangat diharapkan oleh Nabi Ibrahim Khalîlullâh a.s., yaitu semua lapisan masyarakat ramai-ramai berkumpul bersama di suatu tempat. Dengan demikian, beliau dapat mengemukakan alasannya secara efektif atas kebatilan dan kesesatan kaumnya yang menyembah berhala-berhala itu. Hal seperti ini juga pernah dikemukakan oleh Nabi Musa a.s. saat menentang Firaun: "Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah pada hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada saat matahari sepenggalah naik." (QS. Thâha: 59)

Akhirnya, mereka berkumpul dan Ibrahim didatangkan di tempat perkumpulan orang banyak.

Allah s.w.t. berfirman, "Mereka bertanya: 'Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan Kami, hai Ibrahim?' Ibrahim menjawab: 'Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya'." (QS. Al-Anbiyâ: 62–63)

Ucapan Ibrahim itu mengandung makna: "Menurut pendapatku, patung yang paling besar itulah yang telah menghancurkan berhala-berhala itu." Selanjutnya, Ibrahim melontarkan suatu perkataan yang telak kepada mereka, "Coba tanyakan saja kepada berhala itu jika mereka dapat berbicara." (QS. Al-Anbiyâ: 63)

Ucapan Ibrahim tersebut sepertinya dilontarkan dalam upaya menggiring opini publik bahwa patung atau berhala itu sama sekali tidak dapat berbicara. Patung atau berhala hanyalah benda mati yang tidak bisa melakukan apa-apa sebagaimana benda-benda mati lainnya.

Qatadah berkata, "Mereka merasa malu dan kebingungan atas keburukan berhala itu. Oleh sebab itu, mereka berkata: 'Sesungguhnya, kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.' (QS. Al-Anbiyâ`: 65) Maksudnya: 'Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau sudah mengetahui kalau patung-patung itu tidak dapat berbicara lalu mengapa engkau masih menyuruh kami bertanya kepadanya'?"

Saat itulah Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada mereka: 'Lalu mengapa kalian semua menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian? Ah, (celakalah) kalian dan (celaka pula) apa yang kalian sembah selain Allah. Apakah kalian tidak memahami'?' (QS. Al-Anbiyâ`: 66–67)

Mereka berniat membakar Nabi Ibrahim a.s. sebagai bentuk perlawanan, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Anbiyâ: 68–70, di mana Allah SWT berfirman menyelamatkan Ibrahim dengan memerintahkan api menjadi dingin dan selamat.

Untuk melaksanakan niat tersebut, seluruh kaum secara serentak mengumpulkan kayu bakar dari berbagai tempat, bahkan ada seorang wanita sakit yang bernazar akan ikut membawa kayu bakar jika disembuhkan. Setelah itu, mereka berbondong-bondong membawa kayu bakar tersebut ke tempat yang telah disiapkan.

Mereka meletakkan kayu-kayu ke dalamnya dan membakarnya hingga api tampak membumbung tinggi dengan dahsyat. Sebelum itu, tidak pernah ada kobaran api sedahsyat itu.

Setelah semuanya itu dipersiapkan, mereka meletakkan Ibrahim di timbangan (ayunan) manjaniq yang dibuat oleh seseorang dari bangsa Kurdi yang bernama Hazan. Ia orang yang pertama kali membuat manjaniq. Selanjutnya, Allah membenamkannya ke dalam bumi dalam keadaan menjerit-jerit sampai hari Kiamat.

Sebelum mereka mengikat dan memborgol Ibrahim. Saat itulah Ibrahim membaca,

لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ رَبَّ الْعَالَمِينَ، لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الْمُلْكُ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, Tuhan semesta alam. Segala puji bagi-Mu dan segala kekuasaan hanya milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”


Doa Nabi Ibrahim ketika Dilemparkan ke Dalam Api

Ketika Ibrahim diletakkan di ayunan manjaniq dalam keadaan tubuh terikat dan tangan diborgol lalu ia dilempar dari alat pelontar itu ke api, pada saat itulah beliau mengucapkan,

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah sebagai Penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung.”

 

Ibrahim vs Namrud

Allah s.w.t. menyebutkan kisah perdebatan antara Nabi Ibrahim a.s. dan seorang raja yang sangat sombong, kafir, dan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Selanjutnya, Ibrahim mematahkan argumentasi raja yang sombong itu. Ibrahim menjelaskan tentang kekeliruan cara berpikir sang raja, kebodohannya, dan ketumpulan otaknya. Ibrahim mengemukakan argumentasi-argumentasi yang tepat untuk mengalahkannya.

Para ahli tafsir, ulama ahli nasab, dan pakar sejarah mengatakan, "Raja tersebut adalah raja Babilonia. Namanya Namrud ibn Kan'an ibn Kausy ibn Sam ibn Nuh. Pendapat ini menurut Mujahid." Sementara itu, ulama lainnya mengatakan, "Namanya Namrud ibn Falih ibn Abir ibn Shaleh ibn Arfakhsyadz ibn Sam ibn Nuh."

Mujahid dan ulama lainnya berkata, "Ia (Namrud) adalah salah seorang raja dari empat raja dunia yang besar: dua raja yang beriman kepada Allah dan dua raja lainnya yang kafir. Dua raja yang beriman yaitu Dzulqarnain dan Nabi Sulaiman, sedangkan dua raja yang kafir yaitu Namrud dan Bukhtanashar."

Mereka menyebutkan bahwa Namrud berkuasa selama empat ratus tahun. Ia adalah raja yang durhaka, zalim, tiran, sewenang-wenang, dan mabuk dunia.

 

Keluarga dan Keturunan

Ibrahim memiliki dua istri:

  1. Sarah, yang melahirkan putranya Ishaq, dari keturunan beliaulah nabi Ya'qub dan Yusuf berasal.
  2. Hajar, yang melahirkan putra pertama Ibrahim: Ismail, leluhur bangsa Arab keturunan Nabi Muhammad berasal. 

Ketika Ismail lahir, Allah memberikan wahyu yang berisi kabar gembira kepada Ibrahim bahwa beliau akan dikaruniai seorang anak yang bernama Ishaq dari istri beliau, Sarah. Beliau pun melakukan sujud syukur kepada Allah. Selanjutnya, Allah berfirman kepada beliau, "Aku telah mengabulkan doamu dengan kelahiran Ismail dan Aku limpahkan berkah kepadanya. Aku kembangkan anak-anak keturunannya menjadi keturunan yang sangat banyak. Ia akan melahirkan dua belas orang besar. Aku jadikan ia sebagai pemimpin bagi kaum yang sangat besar."

Setelah Hajar melahirkan Ismail, kecemburuan Sarah semakin menjadi-jadi. Sarah meminta kepada Ibrahim untuk menyingkirkan Hajar agar wajahnya tidak terlihat lagi oleh Sarah. Ibrahim lalu membawa Hajar dan anaknya, Ismail, pergi menuju suatu tempat. Ibrahim menempatkan Hajar dan anaknya di tempat tersebut yang sekarang dikenal dengan nama Mekah. Ada yang mengatakan bahwa putra Ibrahim saat itu masih menyusu (menetek) pada ibunya, Hajar.

Ketika Ibrahim pergi meninggalkan Hajar dan putranya di tempat itu, Hajar segera menyusul dan menarik baju Ibrahim seraya berkata, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi? Kautinggalkan kami di sini, padahal kami tidak mempunyai bekal yang memadai.” Ibrahim tidak menjawab pertanyaan Hajar. Setelah Hajar mengulangi pertanyaannya kepada Ibrahim sementara suaminya itu hanya diam saja dan tidak menjawabnya, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Syekh Abu Muhammad ibn Abi Zaid r.h. menyebutkan di dalam kitab An-Nawâdir, “Sarah benar-benar sangat marah kepada Hajar maka ia pun bersumpah akan memotong tiga anggota tubuh Hajar. Selanjutnya, Ibrahim menyuruh Sarah agar menindik kedua telinga Hajar dan mengkhitannya. Dengan demikian, Sarah akan terbebas dari sumpahnya.”

As-Suhaili berkata, “Hajar adalah wanita pertama yang berkhitan, wanita pertama yang menindik telinga, dan wanita pertama yang memanjangakan baju bawahnya.”


Kisah Perjalanan Hijrah Ibrahim ke Mekah dan Pembangunan Baitullah

Bukhari berkata, “Abdullah ibn Muhammad (Abu Bakr ibn Abi Syaibah) berkata: ‘Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Mu’ammar menceritakan kepada kami, dari Ayyub as-Sakhtayani dan Kutsair ibn Muththalib ibn Abi Wada’ah yang kedua riwayatnya saling melengkapi, dari Sa’id ibn Jubair, dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Wanita yang pertama kali memakai rok panjang adalah ibunda Ismail (Hajar). Ia membuat rok yang dipakainya terjuntai memanjang hingga ke tanah untuk menutupi jejak kakinya sehingga tidak diketahui oleh Sarah. Setelah itu, Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Ismail, yang masih disusui oleh Hajar.

Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail di Baitullah dekat pohon besar yang terletak di atas zamzam yang berada di atas masjid sekarang ini. Pada saat itu, tidak ada seorang pun yang berada di Mekah dan sama sekali tidak ada air di sana. Ibrahim meninggalkan Sarah dan putranya di Mekah. Sebelumnya, Ibrahim meletakkan geribah yang berisi kurma dan bejana yang berisi air di sisi Hajar dan putranya’.” (HR. Bukhari dan Ahmad)


Perjuangan Hajar Mencari Air

Setelah persediaan air habis, Ismail menangis dan lemas karena kehausan. Hajar yang tidak tega melihat anaknya segera pergi menuju Bukit Shafa (bukit terdekat) untuk memantau keadaan sekeliling, namun tidak menemukan siapa pun. Hajar kemudian turun menyeberangi lembah dengan menyingsingkan bajunya dan berlari sekuat tenaga menuju Bukit Marwah, namun tidak menemukan siapa pun. Hajar berjalan mondar-mandir antara Shafa dan Marwah hingga 7 kali. Oleh sebab itu, manusia berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah dalam ibadah haji.


Kisah Air Zamzam

Saat mendekati Bukit Marwah, Hajar mendengar suara: “Diamlah.” Maksudnya, suara itu menghendaki Hajar agar diam dan mendengarkannya. Hajar pun diam untuk memusatkan pendengarannya hingga ia benar-benar dapat mendengarnya. Setelah itu, Hajar berkata, “Aku telah mendengarnya, apakah engkau dapat memberikan bantuan?” Ternyata Hajar berada di suatu tempat bersama malaikat yang di tempat itulah air zamzam berada. Malaikat itu menghentakkan telapak kakinya ke tanah, ada juga yang mengatakan dengan sayapnya hingga keluarlah sumber air yang memancar. Setelah itu, Hajar membendung air dengan kedua telapak tangannya hingga membentuk kolam kecil dan mengucapkan kata-kata itu (zamzam). Selanjutnya, ia menciduk air yang tergenang itu dan memasukkannya ke dalam bejana. Sementara itu, air terus memencar setelah diciduk oleh Hajar.

Ibnu Abbas berkata, “Nabi s.a.w. bersabda: 'Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Ibunda Ismail. Seandainya ia tidak menciduk air (zamzam) itu, niscaya air itu akan mengalir (ke seluruh permukaan bumi).'"

Hajar pun meminum air zamzam dan menyusui putranya. Selanjutnya, malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau takut disia-siakan karena di tempat inilah Baitullah akan direnovasi oleh anak ini (Ismail) bersama dengan ayahnya (Ibrahim). Sesungguhnya, Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.”

Pada mulanya Baitullah hanya berupa suatu tempat yang tinggi di atas tanah semacam gundukan tanah. Selanjutnya, tempat itu diterpa banjir sehingga bagian kanan dan kirinya terkikis. Demikianlah keadaan tersebut terus berlanjut.

 

Ka'bah di Makkah

Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun sebuah rumah yang didedikasikan untuk ibadah-Nya di lembah yang tandus di Makkah. Ini adalah bagian dari peran Ibrahim dalam menyebarkan monoteisme. Ibrahim dan putranya, Ismail, bekerja bersama untuk mendirikan fondasi Ka'bah menggunakan batu. Al-Qur'an menggambarkan momen ini:

"Dan [sebutkanlah] ketika Ibrahim dan Ismail sedang mendirikan dasar-dasar Rumah itu, [seraya berkata]: ‘Ya Tuhan kami, terimalah [amal ibadah] ini dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui.’" (Surah Al-Baqarah 2:127)

Ibrahim berdoa agar Ka'bah menjadi tempat ibadah hanya untuk Allah dan agar wilayah sekitarnya diberkahi:

"Ya Tuhan kami, jadikanlah kota ini tempat yang aman dan berilah rezki kepada penduduknya, siapa pun yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir." (Surah Al-Baqarah 2:126)

Ka'bah menjadi pusat spiritual bagi umat yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia disebut sebagai "Rumah Allah" (Baytullah) dan menjadi arah (Qiblah) tempat umat Muslim menghadap saat shalat. Ibrahim menyeru umat untuk melakukan Haji (ziarah) ke Ka'bah, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an:

"Dan serukan kepada umat manusia untuk menunaikan Haji; mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai setiap unta yang kurus; mereka akan datang dari setiap jalan yang jauh." (Surah Al-Hajj 22:27)

Salah satu ujian terbesar Ibrahim adalah diperintah untuk mengorbankan putranya, Ismail. Baik ayah maupun anak menunjukkan penyerahan total kepada kehendak Allah, namun Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba pada saat terakhir. Peristiwa ini diperingati dalam ritual Islam, yaitu Idul Adha.

 

Kisah dan Sejarah Khitan dalam Islam

Khitan atau sunat adalah praktik yang memiliki landasan dalam ajaran Islam, serta diwarisi dari tradisi Nabi Ibrahim a.s. Berikut adalah beberapa kisah terkait khitan:

1. Perintah Khitan untuk Nabi Ibrahim

  • Dalam sebuah hadits sahih, disebutkan bahwa Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk berkhitan:

"Ibrahim a.s. berkhitan pada usia 80 tahun dengan kapak." (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Khitan menjadi simbol kesucian dan kebersihan serta bagian dari fitrah manusia dalam Islam.

2. Khitan sebagai Fitrah

  • Rasulullah Muhammad ﷺ menyebut khitan sebagai salah satu dari lima fitrah yang disunnahkan:

"Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memendekkan kumis." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Khitan dalam Kehidupan Nabi Muhammad ﷺ

  • Ada perbedaan pandangan mengenai apakah Rasulullah ﷺ dilahirkan dalam keadaan sudah berkhitan (khitanul fitrah) atau dikhitankan pada usia tertentu, tetapi mayoritas ulama meyakini bahwa beliau lahir dalam keadaan suci dan berkhitan.

4. Hikmah Khitan dalam Islam

  • Kebersihan: Khitan membantu menjaga kebersihan tubuh dan mencegah penyakit.
  • Kesucian: Sebagai simbol kepatuhan kepada Allah dan kebersihan jiwa.
  • Kesempurnaan Ibadah: Dalam Islam, kebersihan adalah bagian penting dari ibadah, termasuk dalam pelaksanaan shalat.

Khitan dalam Tradisi Umat Islam

  • Khitan biasanya dilakukan pada anak laki-laki saat usia bayi hingga remaja, tergantung pada kebiasaan budaya setempat.
  • Di beberapa masyarakat Muslim, khitan juga dianggap sebagai tanda kedewasaan atau peralihan menuju tanggung jawab beribadah penuh.

Khitan Perempuan

  • Dalam beberapa komunitas, ada juga tradisi khitan perempuan dengan aturan yang sangat berbeda. Islam memandang khitan perempuan tidak wajib dan hanya sebatas menjaga kebersihan, dengan syarat tidak menyakiti atau merugikan kesehatan.

Khitan Sebagai Sunnah 

  • Karena Nabi Ibrahim adalah teladan bagi umat Islam dalam banyak hal, termasuk khitan, maka khitan menjadi bagian dari praktik yang dihormati dan dijalankan oleh umat Muslim hingga saat ini.  

Daftar Cerita

Silahkan dipilih untuk membaca cerita ADAM A.S IDRIS A.S NUH A.S HUD A.S SHALEH A.S IBRAHIM A.S LUTH A.S ISMAIL A.S ISHAQ A.S YA'QUB A.S...